Tahun Demi Tahun Berlalu

Tags

Tahun Demi Tahun Berlalu
Hukum Islam – Tahun demi tahun terus berlalu, tetapi aku merasa sama sekali belum memahami ayat-ayat Al-Quran. Belum satu pun ayat merasuk ke jiwaku. Hari demi hari juga terus berganti. Suatu malam aku tangisi dosa, tapi sepuluh malam aku lupa. Satu kali aku bertobat, namun berkali-kali aku rusak dengan maksiat. Lidah, mata, dan telingaku lepas tidak terkontrol. Begitu pula dengan kaki dan tanganku. Waktuku lepas begitu saja tanpa ada gunanya. Siang dan malam silih berganti datang mengurungku dalam kedunguan. Aku sama sekali tidak memanfaatkannya untuk memahami ilmu yang sebetulnya dapat menyatukanku dengan Sang Pencipta. Ketika aku menginginkan sesuatu, hawa nafsulah yang memandu dan menguasaiku.

Aku mencela sesuatu, kulakukan berdasarkan hawa nafsu. Hawa nafsu membuatku sibuk menelisik aib orang lain tanpa memperhatikan aibku sendiri. Hawa nafsu membuatku berbangga diri dan membesar-besarkan urusan dunia dengan segala rona-ronanya, padahal semua itu adalah Anugerah Allah semata. Nafsu membuatku sibuk mencari kedudukan di sisi manusia. Aku dicintai, tetapi juga dibenci. Aku diperbincangkan dan disanjung-sanjung, namun juga dicemooh dan dilecehkan.

Demikianlah yang terjadi pada diriku. Begitulah nilai diriku. Benarkah untuk semua ini aku diciptakan? Apakah untuk tujuan ini Allah menundukkan alam semesta untukku?
Tidak demikian! Aku diciptakan bukan untuk hidup layaknya orang sekarang. Aku memiliki tujuan hidup yang jelas, menyangkut keluarga dan umat ini. Aku melihat, hari demi hari umat semakin terpuruk dalam kekosongan, satu sama lain saling bermusuhan, dan mereka telah berpaling dari Allah.

Sepertinya tidak sedetik pun waktuku digunakan untuk mengangkat martabat umat ini. Aku telah bersikap masa bodoh terhadap keadaan mereka. Pura-pura tidak tahu bahwa darah mereka tumpah tanpa ada yang membela.
Mereka tercabik-cabik dalam konflik. Tidak sedikit diantara mereka yang menghadap kepada Allah dengan cara yang justru membawa aib bagi mereka sendiri, menghadap kepada Nabi dengan cara yang justru membuat hati beliau terluka.
Lalu apa tugasku di tengah situasi buruk seperti ini? Apakah aku ingin hidup seperti ini terus, layaknya hewan ternak yang tidak memberiku nilai sama sekali? Tanpa kerinduan kepada Allah, dan tanpa jerih payah untuk mendapatkan Karunia-Nya? Apakah aku takkan melangkah untuk membersihkan hati dan menjernihkan jiwa? Apakah aku akan membiarkan diriku dijemput ajal dalam keadaan seperti ini?
Dan, aib terbesar dari semua aib yang ada pada diriku adalah ketidaktahuanku terhadap aib ini!


EmoticonEmoticon