Kolaborasi Nafsu Jahat dan Setan

Tags

Nafsu Jahat dan Setan
Hukum Islam Nafsu Jahat dan Setan memang musuh terbesar manusia. Bisa jadi terlintas di benak seorang mukmin, meskipun hanya sekilas sepercik kesadaran “Bagaimana aku terpuruk dalam kubangan aib tanpa pernah kusadari? Kenapa aku juga belum beranjak menuju Allah? Waktuku hilang, umurku melayang, tetapi tidak sejengkal pun aku bertambah dekat menuju Allah. Tidak pula pengetahuanku tentang-Nya. Semua berlalu sia-sia.

Sayangnya sepercik kesadaran ini segera dihadang nafsu jahat. Dengan dibantu setan, nafsu ini mencoba mengendurkan semangat orang mukmin tadi, melancarkan bujuk rayu dan godaannya, “Engkau masih lebih baik dibandingkan orang lain, bersyukurlah! Lihatlah keadaan manusia di zaman edan ini. Engkau sudah mengerjakan sholat, berhaji, berumroh, bersedekah, berdzikir kepada Allah, dan bersholawat kepada Nabi. Cobalah perhatikan orang itu, ia jauh dari Allah. Dibandingkan dengan dirimu, ia tidak ada apa-apanya. Engkau masih lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.”

Rayuan maut dari kolaborasi antara nafsu dan setan tadi menghadang manusia untuk menghancurkan dan menjauhkannya dari momen-momen ketika ia sebetulnya tengah berada dalam Cahaya Allah untuk mencela hawa nafsu itu.
Tiada orang yang mencela dirinya
Sehebat orang yang merdeka yang luhur dan mulia
Orang menjadi baik
Adalah tergantung dengan siapa dia berteman
Setiap kali momen untuk menelisik aib diri sendiri mendatangi seorang mukmin, maka saat itu pulalah nafsu jahat datang menutupi aib itu rapat-rapat. Memang benar bahwa ada banyak orang yang lebih buruk daripada kita, tetapi apakah kita diciptakan untuk memandang orang yang lebih buruk itu? Berapa kali kita melihat orang menaiki mobil yang lebih bagus daripada mobil kita, lalu kita berharap mempunyai mobil yang sama? Bukankah sering sekali kita menyaksikan seorang mengenakan busana yang lebih mahal dibanding busana yang kita kenakan, lalu kita berharap memilikinya juga? Bukankah sering pula kita mendengar seorang mendapat limpahan harta dunia, lalu kita berharap mendapatkan hal serupa?

Kenapa kita tidak bersyukur? Bukankah sebagian orang kelaparan, sementara kita kekenyangan? Bukankah sebagian orang tidak memiliki pakaian atau kendaraan, sedangkan kita memilikinya? Mengapa dalam urusan dunia kita melihat ke atas, sementara dalam urusan akhirat kita melihat ke bawah?

Tahukah kita apa penyebabnya? Itulah nafsu yang tidak kita bersihkan dan tidak kita didik. Dialah musuh terbesar kita yang menghambat perjalanan kita menuju Allah.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيم
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs Yusuf: ayat 53)
Setiap kali kita menarik nafas, setiap kali itu pula Tuhan kita Yang Maha Baik dan Maha Pemberi Rahmat berbuat baik dan memberi kita rahmat.
Atas semua itu, apa balasan kita terhadap-Nya?


EmoticonEmoticon